Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

WEBINAR

INDEKS BERITA

Tag Terpopuler

Jejak Kebencanaan dan Ingatan Kolektif

Minggu, 06 Agustus 2023 | Agustus 06, 2023 WIB Last Updated 2023-08-07T06:27:19Z

 


JEJAK KEBENCANAAN DAN INGATAN KOLEKTI


Oleh : Musfeptial

Peneliti Ahli Madya Bidang Sastra

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)


Daerah Sumatera Barat merupakan daerah yang rawan akan kebencanaan. Setidaknya ada dua potensi besar bencana. Pertama, bencana gunung meletus dan kedua bencana gelombang laut. 


Hal ini dimungkinkan karena di Sumatera Barat banyak gunung berapi. Diantaranya Gunung Marapi, Gunung Singgalang. Gunung Talang, Gunung Sago, Gunung Pasaman, dan Gunung Talamau. Disisi lain Sumatera Barat juga dikelilingi oleh laut yang membentang dari Pasaman, Pesisir Selatan, Padang hingga Pariaman.


Dengan demikian letak geografis Sumatera Barat menjadikan provinsi ini daerah yang rawan bencana. Sejarah mencatat, setidaknya ada beberapa kali bencana yang pernah menimpa daerah Sumatera Barat. Pada tahun 1926, tepatnya tanggal 28 Juni 1926 di Padang Panjang terjadi gempa besar yang berkekuatan 7,6 SR.  Gempa ini mengakibatkan 247 orang meninggal dunia. Bahkan diberitakan juga di Danau Singkarak terjadi gelombang besar yang menyerupai Tsunami dengan ketinggian 10 meter. 


Selain itu, banyak beberapa kali letusan gunung Marapi dan Singgalang, serta luncuran  galodo dari lereng kedua gunung tersebut juga mendatangkan bencana bagi masyarakat Sumatera Barat. Bencana gempa terkini, terjadi di tahun 2007 yang juga mengakibatkan kerugian bencana dan jiwa di Sumatera Barat. Pertanyaannya kemudian bagaimana masyarakat Sumatera Barat mengingat bencana gempa tersebut?


Masyarakat Sumatera Barat mengingat bencana tersebut dalam memori tradisionalnya. Ingatan kolektif masyarakat terhadap bencana tertuang dari ingatan lisan masyarakat. Bagi mereka, ketika terjadi gelombang air laut yang tinggi mereka menyebut gelombang tersebut dengan ombak gilo (ombak gila).  Bahkan, di daerah Pasaman Barat, ingatan kolektif akan mitigasi  bencana terlihat dari penamaan tempat, yaitu Aie Bangih, yang bermakna air marah atau air  mengamuk.  Begitu juga dengan bencana gempa yang terjadi di Padang Panjang tahun 1926, mereka mengingatnya dalam tuturan lisan, berupa sampiran pantun, seperti pantun berikut.

         Dari Pitalah ka Batipuh,

Hari gampo di Padang Panjang,

Sadang ka sawah kami lai namuh

Kunun kok maabihan nan taidang.


Dari Solok ka Padang Panjang

Di Ombilin jembatan putuih

Tanah ratak bancano manajang

Lahar dingin gunuang malatuih.  

Artinya, jejak kebencanaan oleh masyarakat Sumatera Barat juga melekat di sampiran pantun. Hal ini dapat dipahami karena pantun bagi masyarakat Sumatera Barat merupakan genre sastra lama yang popular dan dekat dengan kehidupan bersastra mereka. 


Selain itu, penamaan tempat yang berkaitan dengan bencana juga merupakan bentuk ingatan kolektif akan bencana yang sekarang menjadi kurang perhatian, penamaan tempat Bungo Pasang, di pinggir pantai di Kota Padang, Desa Sasak di pinggir pantai Pasaman Barat, lalu istilah ombak gilo, dan Aie Bangih merupakan daerah yang terdesak dari air laut dan sungai harus dimakna bagian dari ingatan kolektif akan bencana air laut. Ini bisa disetarakan dengan tradisi smong di Masyarakat Simeulue, Aceh dalam mengingat bencana gelombang pasang pada masa lalu.. Smong diartikan hempasan gelombang air laut. 


Dengan demikian, ingatan kolektif akan bencana masa lalu harusnya menjadi alarm bagi  kita dalam mengatasi bencana. Konsep waspada dari bencana sudah diingatkan oleh leluhur kita dengan bentuk ingatan kolekti yang sepertinya juga harus cermat kita pahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update